Melawan Lupa! Diantara Kenangan dan Kehilangan
Episode Kedua : Tangis di Tepian Pasir Macang
Langit pagi di Tiga Balata masih diselimuti kabut tipis ketika aku duduk termenung di depan rumah Amangboru Mandus. Udara dingin menusuk kulit, tetapi tidak sedingin rasa sepi yang diam-diam tinggal di dalam hati seorang anak kecil yang jauh dari orang tuanya.
Sudah hampir setahun aku tinggal bersama keluarga Amangboru Mandus di Tiga Balata. Meski awalnya terasa asing, perlahan aku mulai terbiasa menjalani hidup yang jauh berbeda dibanding kampung halaman ku di Sopan, pedalaman Rokan IV Koto.
Di kampung, hidup kami bergantung pada alam. Hutan lebat mengelilingi rumah-rumah kecil yang berdiri berjauhan. Namun di Tiga Balata, aku mulai mengenal kehidupan yang lebih teratur. Aku didaftarkan menjadi murid kelas lima SD Negeri 04 Jorlang Hataran, meskipun sebelumnya aku hanya tamat kelas tiga SD di kampung.
Aku tidak pernah tahu dari mana Amangboru memiliki keyakinan bahwa aku mampu mengikuti pelajaran itu. Tapi dari sorot matanya, aku tahu ia ingin aku menjadi anak yang lebih baik daripada dirinya.
Sementara Nomboru Mandus adalah perempuan yang dikenal tegas dalam mendidik, namun lembut dalam menyayangi. Setiap anak memiliki tugas masing-masing. Aku belajar mencuci piring, membersihkan rumah, memasak nasi, bahkan mengasuh Lae kecilku, Sakkan Damanik.
Kadang ketika Sakkan memegang kue di tangannya, diam-diam aku meminta separuh lalu memakannya cepat-cepat sebelum Nomboru melihat. Sampai hari ini, kenangan kecil itu masih membuatku tersenyum pahit. Sebagai pedagang ikan asin, Nomboru sering mengajakku ke pasar-pasar besar.
Aku pernah ikut berjualan ke Tiga Dolok dan Onan Tiga Raja Parapat. Subuh-subuh sekali kami berangkat menumpang mobil bersama pedagang lain. Aku duduk diam di tengah desakan orang dewasa sambil mendengar percakapan mereka yang sebagian besar tak ku pahami.
Sesampainya di Onan Tiga Raja, aku terpukau melihat ramainya pasar dan birunya Danau Toba dari kejauhan. Nomboru mengajariku bagaimana menyapa pelanggan dengan ramah. Ia berkata pelan kepadaku, “Kalau mau dihargai orang, belajarlah menghargai orang dulu".
Kalimat sederhana itu melekat kuat di dalam hidupku. Siang hari ketika kami makan nasi dengan ikan mujair, aku sering memandang bukit-bukit tinggi di pinggir Danau Toba. Entah mengapa, setiap melihat luasnya danau itu, dadaku terasa sesak. Rindu kepada ayah dan ibu datang tanpa bisa ku tahan.
Aku ingin pulang, Aku ingin mendengar suara ibu memanggil namaku. Aku ingin melihat adik-adikku berlari di halaman rumah. Namun semua hanya bisa kusimpan dalam diam. Hari demi hari berlalu. Aku menjalani hidup seperti anak kecil biasa, meski di dalam hati ada kekosongan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Sampai suatu sore menjelang akhir tahun 1985, ayah datang menjemput ku. Wajahnya tampak letih. Matanya merah seperti menahan sesuatu. “Ibumu sakit parah...” katanya pendek. Aku tidak banyak bertanya. Aku hanya mengikuti langkah ayah meninggalkan Tiga Balata.
Lidahku kelu, Dadaku terasa berat, Bus Sibualbuali membawa kami menuju Ujungbatu. Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan ibu. Aku membayangkan ia sedang terbaring lemah menunggu kepulanganku.
Namun malam itu, takdir ternyata lebih kejam daripada yang kubayangkan. Karena tidak ada lagi speed boat menuju Pasir Macang, kami menumpang di rumah kontrakan seorang siswa SMA.
Di situlah semuanya berubah.
Seorang pemuda bernama Nasripul memandang ayahku dengan wajah iba. Lalu dengan suara pelan ia berkata, “Pak..jangan terkejut yo... Etek lah meninggal duo hari nan lalu...” Dunia seakan berhenti berputar.
Aku terpaku, Suara-suara di sekeliling mendadak hilang. Aku tidak menangis. Aku bahkan tidak mampu berkata-kata. Rasanya seperti ada sesuatu yang patah di dalam dada seorang anak kecil yang terlalu lama menahan rindu.
Malam itu aku hanya duduk diam memeluk lutut. Dalam hati aku terus berkata, “Tidak mungkin... tidak mungkin ibu pergi sebelum aku pulang...” Namun kenyataan tidak pernah menunggu kesiapan manusia untuk menerimanya.
Keesokan harinya kami menaiki speed boat menyusuri Sungai Rokan menuju Pasir Macang. Sepanjang perjalanan, air mataku tak berhenti mengalir. Aku memandang derasnya air sungai dengan hati hancur.
Aku terlambat, Aku tidak sempat melihat wajah ibu untuk terakhir kali. Aku tidak sempat memeluknya. Aku tidak sempat mendengar pesannya sebelum pergi selamanya.
Sesampainya di tepian Pasir Macang, kakiku terasa lemas. Dari kejauhan terlihat ketiga adikku menangis tersedu-sedu. Jamot menggendong Togu yang masih balita. Wajah mereka sembab dan penuh duka. Saat itulah akhirnya aku sadar...Ibu benar-benar telah tiada.
Aku berlari memeluk adik-adikku sambil menangis sejadi-jadinya. Tangis yang selama ini ku tahan pecah begitu saja di tepian Pasir Macang itu yang Langitnya saat itu sedang mendung. Angin sore berhembus pelan. Dan di antara suara tangis kami, aku merasa sebagian masa kecilku ikut dikuburkan bersama ibu.
Sejak hari itu aku mengerti, Bahwa kehilangan terbesar dalam hidup bukan hanya tentang ditinggalkan. Tetapi tentang rindu yang tidak lagi memiliki tujuan untuk pulang.
Penulis: (Palasroha Tampubolon C.NPS)




Tulis Komentar