Melawan Lupa! Diantara Kenangan dan Kehilangan

Episode Pertama : Kecemasan  Didalam Perpisahan

RIAUMERDEKA-Jumat pagi, 8 Mei 2026, suasana hari itu terasa begitu berbeda. Saat membuka aplikasi WhatsApp, mataku tertuju pada pesan di grup “Keluarga Besar Oppung Risma.” Pesan itu ditulis oleh saudara perempuanku, Ito Vesty Tampubolon, S.Pd (Nai Daniel).

Dengan kalimat singkat namun menghentak hati, ia mengabarkan bahwa Amangboru Mandus (Oppung Jesica Doli) yang tinggal di Tangerang, Provinsi Banten, telah dipanggil Tuhan Yang Maha Esa setelah sembilan tahun berjuang melawan penyakit stroke.

Seketika dadaku terasa sesak. Air mata tanpa sadar jatuh membasahi pipi. Dalam lirih aku bergumam, “Selamat jalan, Amangboru. Engkau telah berhasil mengantarkan anak-anakmu menjadi pribadi yang kuat dan berkeluarga. Engkau telah menanamkan keteguhan hidup kepada generasimu.”

Ingatan pun melayang jauh ke masa silam, sekitar tahun 1984. Saat itu Amangboru Mandus bersama Bapa Uda Jimar dan Bapa Uda Susi datang mengunjungi kami di pelosok Rokan IV Koto Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) Provinsi Riau.

Dari sanalah awal perkenalanku dengan sosok Amangboru Mandus dan Namboru Mandus, seorang ibu rumah tangga sederhana yang dikenal pekerja keras dan penuh kasih.

Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan biasa. Mereka memboyong keluarga kami pulang ke kampung halaman ayah di Tiga Balata. Kala itu keluarga besar sempat mendapat kabar bahwa ayah kami telah meninggal dunia akibat malaria tropika yang dideritanya. 

Tatkala Kepulangan kami berubah menjadi sukacita tersendiri bagi seluruh keluarga besar yang selama ini hidup dalam kecemasan dan kerinduan, meskipun Oppung Doli dan Oppung perempuan tidak sempat kami kenal sama sekali.

Setelah beberapa waktu berada di Tiga Balata dan diperkenalkan kepada keluarga besar, adik-adikku diantaranya, Jamot, Rapmahita, dan Togu bersama ayah dan ibu kembali ke kampung pedalaman Rokan IV Koto, tepatnya di Kampung Sopan. Sementara abang kami, Rarat, beberapa tahun sebelumnya telah lebih dahulu dijemput oleh Bapa Uda Vesty dan Bapa Uda Jimar.

Sedangkan aku, dititipkan oleh kedua orang tuaku kepada keluarga Amangboru Mandus agar dapat bersekolah di SD Negeri 04 Perluasan Tiba Balata (saat ini menjadi SD Plus) . Saat itu aku hanyalah seorang anak kecil yang masih asing dengan lingkungan baru. 

Aku bahkan kesulitan berkomunikasi karena tidak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Di kampung, kami sehari-hari hanya memakai bahasa Melayu. Masih terngiang jelas ucapan ibuku, Salpa, sebelum kami berpisah:

“Kami samiang lah baliek ko kampuang, bialah Abang (kamu) tingga dan sokolah disiko ditompek Amangboru ko. Bia Abang bisa manyadi codiak. Kalau dikampuang pasti Abang indak bisa sokolah dek lantaran awak indak mampu.”

Kalimat sederhana itu menjadi kenangan yang tak pernah hilang. Sebab sejak saat itu pula aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Pada tahun 1985, ibuku meninggal dunia untuk selama-lamanya.

Sejak kecil aku dikenal memiliki sifat yang sangat fanatik terhadap ajaran agama Islam. Bahkan kefanatikan itu sering kali lebih besar dibanding pemahamanku sendiri tentang agama. 

Namun di tengah segala keterbatasanku, Amangboru Mandus dan keluarganya tetap menerima serta mendidikku dengan penuh kesabaran.

Aku masih ingat bagaimana aku marah apabila siaran adzan Maghrib di TVRI diganti ke saluran lain. Bahkan suatu hari, tepat pada hari Jumat, Amangboru Mandus menyuruhku bersiap lalu mengantarkanku dengan sepeda motor ke masjid agar aku dapat menunaikan salat Jumat.

Namun yang membuatku heran, setiap hari Minggu aku juga diminta ikut bersama lae menghadiri Sekolah Minggu di Gereja HKI Tiga Balata. Dari sanalah untuk pertama kalinya aku mengenal sosok Tuhan Yesus Kristus melalui buku-buku cerita bergambar. 

Walaupun hati kecilku menolak dan merasa dongkol, aku tak pernah berani membantah. Aku sadar, keluarga inilah yang memberiku kesempatan untuk sekolah dan masa depan.

Tidak hanya itu, Amangboru Mandus juga pernah menyuruhku memandikan serta memberi makan ternak babinya. Saat itu hatiku benar-benar gundah. Sebagai seorang anak yang tumbuh dengan pemahaman agama yang kuat, semua itu terasa berat dan membingungkan.

Tetapi kini, setelah usia dan pengalaman mengajariku memahami kehidupan, aku baru menyadari bahwa semua yang dilakukan Amangboru Mandus adalah bagian dari pendidikan karakter yang sesungguhnya. 

Ia sedang mengajarkan arti kesabaran, toleransi, kerja keras, serta bagaimana menghargai kehidupan tanpa membedakan latar belakang.

Sebagai seorang Penatua di Gereja HKI, Amangboru Mandus tidak hanya melayani lewat kata-kata, tetapi juga lewat tindakan nyata. Ia mendidik dengan keteladanan. 

Ia menanamkan sopan santun, rasa hormat, kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab sejak dini. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan seseorang bukan hanya dilihat dari tingginya pendidikan, melainkan dari akhlak, sikap, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dia juga membimbing anak-anak agar mampu menghadapi kerasnya kehidupan dengan bijaksana, rendah hati, dan tetap menghargai sesama manusia. Nilai-nilai itulah yang hingga kini terus hidup dalam ingatan kami.

Kini Amangboru Mandus telah pergi untuk selamanya menghadap Sang Pencipta. Namun sosoknya tidak akan pernah hilang dari ingatan kami. Ia adalah seorang ayah yang tegas, pekerja keras, tetapi tetap mau mendengar pendapat anak-anaknya.

Di Kecamatan Jorlang Hataran, khususnya di Tiga Balata, siapa yang tidak mengenal Amangboru Mandus? Ia dikenal sebagai mekanik andal sekaligus pemilik bengkel sepeda motor yang mampu memperbaiki berbagai merek kendaraan. 

Bengkelnya selalu ramai didatangi pelanggan. Dari tangannya pula lahir banyak mekanik handal, termasuk adik-adiknya dan orang-orang yang pernah belajar bekerja bersamanya.

Hari ini, yang tersisa hanyalah kenangan. Namun kenangan itu tidak akan pernah mati.Selamat jalan, Amangboru.Terima kasih atas kasih sayang, pengorbanan, didikan, dan ketulusanmu. Nasehatmu akan terus hidup dalam hati kami dan menjadi pelita bagi generasi berikutnya.

Kami akan selalu mengenangmu…hingga rambut kami memutih dan usia kami menua.
Penulis :  (Palasroha Tampubolon, C.NPS

TERKAIT